I.
Tingkat Kunjungan Wisatawan
GARUT, KOMPAS.com - Pariwisata
Garut sudah dikenal turis-turis Eropa jauh sebelum kemerdekaan Indonesia, yaitu
pada masa kolonial Belanda. Di era 1920-an, Belanda mempromosikan pariwisata
Garut bersama dengan Bandung dan Bogor.
Lalu bagaimana dengan kondisi pariwisata Garut
saat ini? Menurut Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Garut, Yatie Rohayati,
jumlah kunjungan wisatawan ke Garut terus mengalami peningkatan. "Di 2011,
kira-kira ada 1,9 juta kunjungan. Ini gabungan wisman (wisatawan mancanegara)
dan wisnus (wisatawan nusantara)," katanya kepada Kompas.com,
Rabu (11/4/2012).
Hanya saja, Yatie mengaku pariwisata Garut belum
optimal, salah satunya adalah kendala akses menuju obyek wisata. Misalnya
pantai-pantai di selatan Garut masih susah dijangkau.
"Juga Papandayan, tapi ada saja yang datang,
cuma lebih ke special interest, orang-orang yang suka
petualangan," tuturnya.
Sedangkan Franz Limiart, penggiat pariwisata dan
ekonomi kreatif di Garut, menuturkan sebagian besar turis yang datang ke Garut
dibawa oleh biro-biro perjalanan wisata dari Bandung. Sementara di Garut
sendiri masih sedikit biro perjalanan wisata yang mengatur paket wisata khusus
untuk Garut.
"Pemandu wisata (berlisensi) orang asli
Garut dan kerja di Garut juga sedikit. Bisa dihitung dengan jari,"
ungkapnya.
Sementara itu, akomodasi di Garut relatif banyak
dan memadai. Berdasarkan pengamatan Kompas.com, di Garut memiliki hotel-hotel
sederhana dan resor yang cocok untuk keluarga terutama di kawasan Jalan
Cipanas.
Selain, berpotensi untuk wisata alam, Garut juga
cocok menjadi destinasi wisata belanja. Industri kreatif di Garut semakin
berkembang, seperti kerajinan kulit domba, kerajinan akar wangi, kreasi dodol,
sampai Batik Garut.
Turis-turis lokal, terutama dari sekitar Garut
seperti Jakarta dan Bandung, menjadi pasar wisata belanja Garut. Seperti
diungkapkan Yunus, pengusaha kerajinan kulit domba dan sapi di Garut, tokonya
selalu dipenuhi wisatawan lokal terutama di hari-hari libur.
"Saya malah ramainya turis lokal, dari
Jakarta dan Bandung. Seperti kemarin pas liburan panjang, toko saya penuh.
Mereka belanja di Garut juga wisata," tuturnya.
Senada dengan diungkapkan Yunus, Zaki dari Dinas
Kebudayaan dan Pariwisata Garut yang bertugas di kawasan wisata Candi Cangkuang
juga mengungkapkan beberapa tahun belakangan makin banyak wisatawan lokal yang
datang ke Candi Cangkuang.
"Dulu kebanyakan orang Eropa, kayak Belanda
dan Jerman. Makanya penunjuk kita juga pakai bahasa Belanda. Tapi sekarang,
yang lokal malah makin banyak. Mereka biasanya ke Garut buat belanja, lalu
mampir ke Candi," jelasnya.
Ya, Garut tak lagi didominasi noni dan meneer
Belanda. Sekarang, saatnya Garut menjadi tujuan wisata para inlander.
II
GARUT,
DETIK.com. Kota Garut selama ini hanya identik dengan camilan dodol Garut.
Padahal, Garut juga punya sentra kerajinan jaket kulit di Sukaregang. Jaket
kulit ini istimewa, karena dari kulit domba asli.
Garut adalah salah satu produsen jaket kulit terbaik di Indonesia. Produk jaket kulit di Garut dihasilkan dari pusat peternakan domba yang tersebar di seluruh Kabupaten Garut.
Jika Anda tertarik dengan jaket kulit ini, datang saja ke sentra kerajinan jaket kulit Garut, di Sukaregang. Letaknya tak jauh dari pusat Kota Garut. Sentra kerajinan jaket kulit ini sudah cukup terkenal, bahkan sampai ke mancanegara. Ini bisa dilihat dari banyaknya produk jaket kulit Garut yang diekspor ke luar negeri. Desain dan motif yang digunakan pada jaket kulit Garut sangat beragam dan modern. Tidak monoton itu-itu saja, jadi selalu menarik untuk dilihat dan dibeli.
Saat memasuki kawasan Sukaregang, Anda akan melihat ada banyak jejeran toko yang menjual jaket kulit. Mulai jaket laki-laki, perempuan, dewasa dan anak kecil ada di sini. Model yang ditawarkan pun bervariasi. Pasti membuat pengunjung bingung untuk memilih.
Masuklah ke dalam toko dan Anda pun bisa melihat aneka barang dari kulit yang dijual. Ternyata, Sukaregang tidak hanya menjual jaket kulit, tetapi juga barang lain seperti tas kulit. Nah, untuk yang senang mengoleksi topi, lengkapi koleksi Anda dengan membeli topi kulit asli buatan Sukaregang.
Aneka produk buatan Sukaregang baik jaket atau pun aksesoris lainnya memang 100 persen kulit asli, soal harga tergantung jenis barang, ketebalan, dan modelnya. Sebagai contoh, untuk aksesoris seperti tas dari kulit dikenai harga mulai dari Rp 80.000.
Garut adalah salah satu produsen jaket kulit terbaik di Indonesia. Produk jaket kulit di Garut dihasilkan dari pusat peternakan domba yang tersebar di seluruh Kabupaten Garut.
Jika Anda tertarik dengan jaket kulit ini, datang saja ke sentra kerajinan jaket kulit Garut, di Sukaregang. Letaknya tak jauh dari pusat Kota Garut. Sentra kerajinan jaket kulit ini sudah cukup terkenal, bahkan sampai ke mancanegara. Ini bisa dilihat dari banyaknya produk jaket kulit Garut yang diekspor ke luar negeri. Desain dan motif yang digunakan pada jaket kulit Garut sangat beragam dan modern. Tidak monoton itu-itu saja, jadi selalu menarik untuk dilihat dan dibeli.
Saat memasuki kawasan Sukaregang, Anda akan melihat ada banyak jejeran toko yang menjual jaket kulit. Mulai jaket laki-laki, perempuan, dewasa dan anak kecil ada di sini. Model yang ditawarkan pun bervariasi. Pasti membuat pengunjung bingung untuk memilih.
Masuklah ke dalam toko dan Anda pun bisa melihat aneka barang dari kulit yang dijual. Ternyata, Sukaregang tidak hanya menjual jaket kulit, tetapi juga barang lain seperti tas kulit. Nah, untuk yang senang mengoleksi topi, lengkapi koleksi Anda dengan membeli topi kulit asli buatan Sukaregang.
Aneka produk buatan Sukaregang baik jaket atau pun aksesoris lainnya memang 100 persen kulit asli, soal harga tergantung jenis barang, ketebalan, dan modelnya. Sebagai contoh, untuk aksesoris seperti tas dari kulit dikenai harga mulai dari Rp 80.000.
Untuk jaket, ada pilihan unik yang bisa dicoba
yaitu jaket yang terbuat dari sisa-sisa potongan kulit. Jaket tipe ini dikenai
harga mulai Rp 650.000. Beda ketebalan, beda harga tentunya. Untuk jaket yang
tebal dan menutup seluruh tubuh, bisa dikenai harga Rp 700.000-2.000.000. Ya,
harganya memang bervariasi, tergantung dari model, ketebalan jaket, dan tentu
saja kemampuan menawar Anda.
Selain toko yang menjual kerajinan jaket kulit, Anda juga bisa melihat langsung proses pembuatan jaket kulit. Mulai dari kulit yang baru dikuliti, hingga proses penjahitan bisa pengunjung saksikan.
Ya, Anda memang bisa melihat pembuatan secara langsung karena industri jaket kulit di sini merupakan industri rumahan. Kemampuan produksi rata-rata tiap produsen mencapai 2.000 jaket per bulan. Wow!
Selain toko yang menjual kerajinan jaket kulit, Anda juga bisa melihat langsung proses pembuatan jaket kulit. Mulai dari kulit yang baru dikuliti, hingga proses penjahitan bisa pengunjung saksikan.
Ya, Anda memang bisa melihat pembuatan secara langsung karena industri jaket kulit di sini merupakan industri rumahan. Kemampuan produksi rata-rata tiap produsen mencapai 2.000 jaket per bulan. Wow!
III
SOSOK SUKSES
KONTAN.co.id
Dengan umur yang masih muda, Agit Bambang Suswato sudah bisa memiliki usaha
pembuatan sepatu kulit dengan omzet ratusan juta per bulan. Pemuda yang sampai
sekarang belum menyelesaikan kuliah ini juga memiliki rasa nasionalisme yang
tinggi. Dia sengaja memberitahu di depan bahwa produknya 100% Indonesia.
Jiwa bisnis Agit Bambang Suswanto sudah terbentuk saat duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA). Kegagalan dalam berbisnis tidak membuatnya jera, bahkan semakin memacu semangat untuk bisa berhasil berwirausaha.
Di usia yang masih sangat belia, 21 tahun, Agit sudah memiliki bisnis pembuatan sepatu kulit dengan omzet hingga ratusan juta rupiah per bulan. "Selain ulet, untuk menjadi seorang sukses berwirausaha juga membutuhkan pendidikan dan kreativitas tinggi," katanya.
Di usia yang masih sangat muda itu, Agit juga memiliki semangat nasionalisme yang tinggi. Itu terbukti dengan mencantumkan tulisan: Made With Proud in Indonesia, yang artinya dibuat dengan bangga di Indonesia pada setiap sepatu produksinya.
Agit mengatakan, ada alasan khusus kenapa dia mencantumkan tulisan itu dalam tiap sepatu kulit buatannya. Yakni, ia memakai 100% kulit lokal untuk sepatu merek Amble. "Jadi, memang 100% Indonesia, dari bahan bakunya sampai proses pembuatannya," ujarnya bangga.
Ia berharap, koleksinya mampu memupus imaji yang selama ini ada bahwa produksi luar negeri pasti lebih baik. Menurutnya, dulu hanya ada sepatu kulit impor, dan orang kita merasa bangga sekali memakainya. "Padahal, kulit yang digunakan berasal dari Indonesia juga, saya tahu karena saya kenal dengan beberapa pemilik pabrik kulitnya," ungkap Agit.
Dengan menuliskan Made in Indonesia di setiap kotak sepatu, juga tulisan Made With Proud in Indonesia, Agit sengaja memberi tahu ke semua orang, bahwa sepatu kulit bikinannya adalah asli buatan Indonesia dengan bahan baku Indonesia pula.
Nasionalisme Agit juga ditunjukkan dengan misi terbesarnya yang ingin memberikan kebanggaan kepada rakyat Indonesia. Caranya, dengan membuktikan bahwa pembuat sepatu kulit Indonesia mampu berdiri sejajar dengan produsen dari negara lain.
Soal pendidikan, Agit yang ternyata belum menyelesaikan kuliah tetap akan menyelesaikan pendidikannya di sela-sela kesibukan sebagai pengusaha sepatu. "Saya tetap ingin menyelesaikan kuliah, walau waktunya pasti akan padat sekali," ujarnya. Sekalipun banyak waktu yang tersita dalam mengurus usahanya, pendidikan tetap penting.
Bangku kuliah, Agit menuturkan, telah memberikan dasar ilmu yang bermanfaat untuk pengembangan bisnis sepatu kulitnya. Meskipun di dunia nyata, banyak ilmu yang didapat di bangku kuliah kurang dirasakan manfaatnya. "Seharusnya, setiap pelajaran bisa diaplikasikan dalam kehidupan nyata," katanya.
Baginya, seorang mahasiswa tidak hanya cukup hadir di kelas menerima materi dari dosen dan mengikuti ujian saja. Namun, lebih dari itu, mahasiswa juga harus mampu mengaplikasikan mata kuliah yang diterima dalam kehidupan nyata.
Oleh karena itu, Agit mengambil jurusan manajemen bisnis di sebuah universitas swasta di Bandung. "Bila sedang mempelajari manajemen pemasaran, saya coba benar-benar mengaplikasikan dengan memasarkan sebuah produk. Dengan begitu, ilmunya tidak sia-sia," ujar Agit.
Selain mendalami ilmu bisnis, Agit juga tertarik dengan dunia desain. Itu sebabnya, dia berencana mengambil jurusan desain jika punya waktu luang.
Ilmu desain menjadi penting lantaran untuk orang sepertinya yang berbisnis sepatu kulit, kreativitas merupakan hal yang mutlak untuk bisa bertahan. Ia mencontohkan, kreativitas diperlukan dalam memodifikasi mesin produksi agar bisa mencetak lebih banyak model. Sehingga, "Tidak perlu lagi membeli mesin baru," kata Agit.
Kreativitas juga dibutuhkan dalam pelbagai eksperimen desain sepatu dan bahan baku, termasuk bagaimana memproduksi produk-produk lain sehingga menambah angka penjualan.
Saat ini, selain sepatu kulit, Agit juga sedang mencoba memproduksi sabuk dan dompet yang juga terbuat dari bahan baku kulit. Kedua produk tersebut dipilih sebagai pengembangan usaha karena proses pembuatannya tidak terlalu rumit.
(Selesai)
Jiwa bisnis Agit Bambang Suswanto sudah terbentuk saat duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA). Kegagalan dalam berbisnis tidak membuatnya jera, bahkan semakin memacu semangat untuk bisa berhasil berwirausaha.
Di usia yang masih sangat belia, 21 tahun, Agit sudah memiliki bisnis pembuatan sepatu kulit dengan omzet hingga ratusan juta rupiah per bulan. "Selain ulet, untuk menjadi seorang sukses berwirausaha juga membutuhkan pendidikan dan kreativitas tinggi," katanya.
Di usia yang masih sangat muda itu, Agit juga memiliki semangat nasionalisme yang tinggi. Itu terbukti dengan mencantumkan tulisan: Made With Proud in Indonesia, yang artinya dibuat dengan bangga di Indonesia pada setiap sepatu produksinya.
Agit mengatakan, ada alasan khusus kenapa dia mencantumkan tulisan itu dalam tiap sepatu kulit buatannya. Yakni, ia memakai 100% kulit lokal untuk sepatu merek Amble. "Jadi, memang 100% Indonesia, dari bahan bakunya sampai proses pembuatannya," ujarnya bangga.
Ia berharap, koleksinya mampu memupus imaji yang selama ini ada bahwa produksi luar negeri pasti lebih baik. Menurutnya, dulu hanya ada sepatu kulit impor, dan orang kita merasa bangga sekali memakainya. "Padahal, kulit yang digunakan berasal dari Indonesia juga, saya tahu karena saya kenal dengan beberapa pemilik pabrik kulitnya," ungkap Agit.
Dengan menuliskan Made in Indonesia di setiap kotak sepatu, juga tulisan Made With Proud in Indonesia, Agit sengaja memberi tahu ke semua orang, bahwa sepatu kulit bikinannya adalah asli buatan Indonesia dengan bahan baku Indonesia pula.
Nasionalisme Agit juga ditunjukkan dengan misi terbesarnya yang ingin memberikan kebanggaan kepada rakyat Indonesia. Caranya, dengan membuktikan bahwa pembuat sepatu kulit Indonesia mampu berdiri sejajar dengan produsen dari negara lain.
Soal pendidikan, Agit yang ternyata belum menyelesaikan kuliah tetap akan menyelesaikan pendidikannya di sela-sela kesibukan sebagai pengusaha sepatu. "Saya tetap ingin menyelesaikan kuliah, walau waktunya pasti akan padat sekali," ujarnya. Sekalipun banyak waktu yang tersita dalam mengurus usahanya, pendidikan tetap penting.
Bangku kuliah, Agit menuturkan, telah memberikan dasar ilmu yang bermanfaat untuk pengembangan bisnis sepatu kulitnya. Meskipun di dunia nyata, banyak ilmu yang didapat di bangku kuliah kurang dirasakan manfaatnya. "Seharusnya, setiap pelajaran bisa diaplikasikan dalam kehidupan nyata," katanya.
Baginya, seorang mahasiswa tidak hanya cukup hadir di kelas menerima materi dari dosen dan mengikuti ujian saja. Namun, lebih dari itu, mahasiswa juga harus mampu mengaplikasikan mata kuliah yang diterima dalam kehidupan nyata.
Oleh karena itu, Agit mengambil jurusan manajemen bisnis di sebuah universitas swasta di Bandung. "Bila sedang mempelajari manajemen pemasaran, saya coba benar-benar mengaplikasikan dengan memasarkan sebuah produk. Dengan begitu, ilmunya tidak sia-sia," ujar Agit.
Selain mendalami ilmu bisnis, Agit juga tertarik dengan dunia desain. Itu sebabnya, dia berencana mengambil jurusan desain jika punya waktu luang.
Ilmu desain menjadi penting lantaran untuk orang sepertinya yang berbisnis sepatu kulit, kreativitas merupakan hal yang mutlak untuk bisa bertahan. Ia mencontohkan, kreativitas diperlukan dalam memodifikasi mesin produksi agar bisa mencetak lebih banyak model. Sehingga, "Tidak perlu lagi membeli mesin baru," kata Agit.
Kreativitas juga dibutuhkan dalam pelbagai eksperimen desain sepatu dan bahan baku, termasuk bagaimana memproduksi produk-produk lain sehingga menambah angka penjualan.
Saat ini, selain sepatu kulit, Agit juga sedang mencoba memproduksi sabuk dan dompet yang juga terbuat dari bahan baku kulit. Kedua produk tersebut dipilih sebagai pengembangan usaha karena proses pembuatannya tidak terlalu rumit.
(Selesai)
Denpasar,(tvOne)
Bagi pecinta sepatu, nama Niluh Djelantik berarti sebuah kenyamanan berbalut cinta dan gairah. Nama yang juga membawa sepatu produk dalam negeri berkiprah di industri fesyen bahkan menembus pasar dunia. Cinta dari Ni Luh Putu Ary Pertami Djelantik terhadap sepatu terutama high heels yang membuat karyanya mendapat tempat istimewa.
Semua berawal dari cinta. Sejak kecil, Niluh memang menaruh perhatian lebih pada alas kaki. Klise, karena Niluh kecil tak penah mendapat sepatu yang pas. Sebagai orangtua tunggal, ibu Niluh berjuang agar bisa menyekolahkan putrinya di tempat terbaik. "Mama lebih fokus pada pendidikan, jadi [sepatu] harus diganjel sama kain karena dua atau tiga ukuran lebih besar," kenang Niluh kepada tvOne.
Kadang, sepatu Niluh keburu rusak atau berlubang saat ukuran mulai pas di kaki. Kesederhanaan itulah yang membuat Niluh berangan-angan untuk memiliki sepatu yang pas di kaki. "Ma, nanti kalau aku sudah gede, sudah bisa kerja sendiri, aku beli sepatu yang pas deh," citanya kepada sang ibu.
Setamat SMA, Niluh meneruskan pendidikan di Jakarta sesuai dengan keinginan ibunya. Niluh kuliah di manajemen keuangan Universitas Gunadarma mulai 1994. Setahun di Jakarta, Niluh belajar mencari kerja agar bisa mandiri. Pekerjaan pertama, operator telepon di sebuah perusahaan tekstil asal Swiss.
Mulai berpenghasilan, Niluh teringat hasratnya memiliki sepatu yang pas di kaki. Gaji pertama didapat, ia langsung membeli sepatu di kawasan Blok M, Jakarta. Sepatu bertumit tinggi menjadi pilihan karena Niluh bekerja kantoran. Harganya Rp 15.000 disesuaikan dengan kantong Niluh saat itu. “Sepatu pertama saya yang pas di kaki, gak nyaman dipakai,” ungkapnya. Seiring membaiknya kondisi keuangan, Niluh mampu mendapatkan sepatu impian yang nyaman di kaki dan pas di hati.
Kemesraan Niluh di Jakarta buyar pada akhir 2001. Garangnya kriminalitas Ibu Kota menyergap perempuan kelahiran 15 Juni 1975 ini pada suatu senja di Bilangan Senen. "Nggak diapa-apain sih, cuma rasa takut itu sangat ada," ujar Niluh. Rasa takut yang membuat Niluh meninggalkan karier di Jakarta. Apalagi sang Ibu juga memintanya untuk kembali ke tanah kelahiran.
Bagi pecinta sepatu, nama Niluh Djelantik berarti sebuah kenyamanan berbalut cinta dan gairah. Nama yang juga membawa sepatu produk dalam negeri berkiprah di industri fesyen bahkan menembus pasar dunia. Cinta dari Ni Luh Putu Ary Pertami Djelantik terhadap sepatu terutama high heels yang membuat karyanya mendapat tempat istimewa.
Semua berawal dari cinta. Sejak kecil, Niluh memang menaruh perhatian lebih pada alas kaki. Klise, karena Niluh kecil tak penah mendapat sepatu yang pas. Sebagai orangtua tunggal, ibu Niluh berjuang agar bisa menyekolahkan putrinya di tempat terbaik. "Mama lebih fokus pada pendidikan, jadi [sepatu] harus diganjel sama kain karena dua atau tiga ukuran lebih besar," kenang Niluh kepada tvOne.
Kadang, sepatu Niluh keburu rusak atau berlubang saat ukuran mulai pas di kaki. Kesederhanaan itulah yang membuat Niluh berangan-angan untuk memiliki sepatu yang pas di kaki. "Ma, nanti kalau aku sudah gede, sudah bisa kerja sendiri, aku beli sepatu yang pas deh," citanya kepada sang ibu.
Setamat SMA, Niluh meneruskan pendidikan di Jakarta sesuai dengan keinginan ibunya. Niluh kuliah di manajemen keuangan Universitas Gunadarma mulai 1994. Setahun di Jakarta, Niluh belajar mencari kerja agar bisa mandiri. Pekerjaan pertama, operator telepon di sebuah perusahaan tekstil asal Swiss.
Mulai berpenghasilan, Niluh teringat hasratnya memiliki sepatu yang pas di kaki. Gaji pertama didapat, ia langsung membeli sepatu di kawasan Blok M, Jakarta. Sepatu bertumit tinggi menjadi pilihan karena Niluh bekerja kantoran. Harganya Rp 15.000 disesuaikan dengan kantong Niluh saat itu. “Sepatu pertama saya yang pas di kaki, gak nyaman dipakai,” ungkapnya. Seiring membaiknya kondisi keuangan, Niluh mampu mendapatkan sepatu impian yang nyaman di kaki dan pas di hati.
Kemesraan Niluh di Jakarta buyar pada akhir 2001. Garangnya kriminalitas Ibu Kota menyergap perempuan kelahiran 15 Juni 1975 ini pada suatu senja di Bilangan Senen. "Nggak diapa-apain sih, cuma rasa takut itu sangat ada," ujar Niluh. Rasa takut yang membuat Niluh meninggalkan karier di Jakarta. Apalagi sang Ibu juga memintanya untuk kembali ke tanah kelahiran.

Di Bali, Niluh kembali mendapatkan pekerjaan di perusahaan fashion milik pengusaha Amerika Serikat. Niluh dipercaya Paul Ropp untuk memegang kendali sebagai Direktur Marketing. Kerja kerasnya berbuah sukses, Paul Ropp berkembang pesat. Di tahun pertama yakni 2002, penjualan naik hingga 330%. Butik bertambah hingga 10 lokasi.
Tapi, hasrat pembaca setia novel-novel karya John Grisham ini tak pernah lepas dari alas kaki. Terlebih saat ibunya menawarkan sebuah pabrik kecil milik temannya yang hendak bangkrut. "Kenapa kamu nggak bantu Bapak ini memasarkan sandal beliau," jelas Niluh menirukan permintaan Ibu. Namun, Niluh terpaksa menolak karena ingin lebih berkonsentrasi bersama Paul Ropp. "Rencana itu tertunda."
Perjalanan bersama Paul Ropp tak berlangsung lama. Pekerjaan marketing harus ditinggalkan karena Niluh jatuh sakit saat tengah berada di New York pada awal 2003. Dokter meminta Niluh tak berpergian jauh sekurangnya dalam enam bulan. Padahal, profesinya menuntut Niluh untuk terbang ke sejumlah negara. "Dibuat mikir lagi," lanjut Niluh, "Harus memutuskan tinggal di Bali atau New York."
Niluh memutuskan kembali ke Bali,
Niluh benar-benar terobsesi oleh “kekurangan” dia di masa lalu. Pada saat
itu pula, Niluh bertemu Cedric Cador. "Kita bertemu, jatuh cinta."
Peluang pun tercipta karena Cedric memang terbiasa memasarkan produk Indonesia
di Eropa. Prinsipnya bahwa tiap perempuan seharusnya bisa memakai sepatu dengan
tumit setinggi 12 cm dengan nyaman akhirnya melahirkan produk sepatu bernama
Nilou, yang tak lain adalah slang lafal Niluh di lidah bule. "Otomatis
lahirnya dari cinta."Niluh fokus mendesain sepatu-sepatu cantik berbahan dasar kulit. Semua dikerjakan tangan agar kualitas tetap terjaga. Di awal pendirian, Niluh membutuhkan waktu hingga dua bulan untuk menyelesaikan satu desain sepatu. Alokasi waktu paling lama untuk berdiskusi dengan pengrajin. Biasanya, Niluh menunjukkan sepatu mahal koleksinya ke tukang. “Saya tanya ke mereka, bisa nggak bikin yang lebih bagus dari ini,” kata penggemar alas kaki karya Manolo Blahnik dan Christian Louboutin ini.
Untuk membedakan dengan produsen sepatu lainnya, Nilou fokus ke pembuatan sepatu dengan tumit antara 10 cm hingga 12 cm. Menurut Niluh, sepatu tumit tinggi yang baik adalah sepatu yang tetap nyaman dipakai meski sudah dipakai selama delapan jam. Bukan sepuluh menit.
Itu sebabnya, Niluh begitu peduli pada proses pembuatan. Satu tukang, jelas dia, bertanggung jawab untuk menyelesaikan sepasang sepatu. Dari memotong bahan, menjahit, hingga membentuk hak sepatu. Tak masalah jika dalam satu hari workshop-nya hanya bisa memproduksi satu pasang sepatu. Sebab, kualitas produk jauh di atas kuantitas. “Kalau saya melihat lima pasang sepatu yang berjajar di etalase, saya tahu siapa pembuat masing-masing sepatu itu,” kata Niluh. Sebab, antara satu tukang dan tukang lain memiliki gaya yang berbeda, meski hal itu hanya akan tampak di mata Niluh seorang.

Tak disangka, koleksi pertama Nilou langsung booming di Prancis. Pesanan pun membanjir. Hingga 4.000 pasang. Pada 2004, Ni Luh mendapatkan kontrak outsource dari jaringan ritel Topshop yang berpusat di Inggris. Pintu perdagangan ke Eropa kian terbuka lebar. Di tahun yang sama, seorang perempuan berkewarganegaraan Australia berkunjung ke gerai Nilou di kawasan Seminyak, Bali. Perempuan yang kemudian dikenal dengan nama Sally Power ini mengaku terkesan dengan sepatu Nilou dan menawarkan diri untuk menjadi distributor di Negeri Kanguru.
Nilou semakin tenar. Pada saat bersamaan, desainer-desainer internasional yang berproduksi atau mencari inspirasi di Bali ikut memakai produk Nilou. Dari situlah Niluh memulai hubungan profesional mendesainkan sepatu untuk perancang-perancang busana dunia seperti Nicola Finetti, Shakuhachi, Tristanblair, dan Jessie Hill.
Sejumlah selebriti Hollywood papan atas, seperti Uma Thurman, supermodel Gisele Bundchen dan Tara Reid, dan Robyn Gibson (mantan istri Mel Gibson) merupakan sebagian perempuan yang fanatik memakai sepatu Nilou. Sepatu made in Bali ini kini dipajang di ratusan etalase di 20 negara di dunia, selain di kantor pusat Nilou di Denpasar. “Kalau Uma beli sepatu Nilou di Saint Barth.” bisik Ni Luh, merujuk ke sebuah pulau kecil di Kepulauan Karibia.
Kalau di awal pendirian Niluh hanya mampu memproduksi tiga pasang sepatu, itupun hanya barang pajangan, Nilou memiliki kapasitas produksi hingga 200 pasang sepatu per bulan. Dahulu, hanya memiliki dua karyawan, Nilou dibantu 22 karyawan dan tiga asisten kepercayaan. Jika toko pertamanya jauh dari kesan eksklusf dengan tembok kusam, dan berdinding anyaman bambu (gedhek), Nilou telah membuka 36 butik di 20 negara.
Niluh mengakui inspirasi merancang sepatu didapat dari mana saja. Baik pada saat sedang membaca buku favorit yang membahas arsitektur dan interior desain maupun ketika berada di Niluh Djelantik atelier bersama para pembuat sepatu. Ide-ide yang muncul ini biasanya langsung Niluh berikan konsepnya kepada sang shoes maker dan mereka langsung menerjemahkannya menjadi sepasang sepatu yang cantik.
Sepatu-sepatunya kebanyakan memakai bahan baku kulit asli, dikombinasikan dengan karung goni, kuningan, kayu, hingga manik-manik. Atas nama eksklusivitas, Nilou menghargai sepasang sepatunya hingga Rp 4 juta. Omzet perusahaan yang diraih pun terbilang besar, mencapai Rp 800 juta untuk setiap bulan.
Di tengah kesuksesan, cobaan
kembali datang. Pada 2007, Niluh mendapat tawaran dari agen di Australia dan
Prancis untuk melebarkan sayap. Nilou diproduksi secara massal di Cina dengan
iming-iming sejumlah besar saham. Dengan tegas, Niluh menolak. Dia tak ingin
cintanya yang melekat setiap pasang sepatu yang dihasilkan dari workshopnya
tergantikan oleh mesin atas nama kapitalisme. "Saya tak mau apa yang
dibina dari nol dibawa ke luar negeri. Berkah dari Tuhan kembali ke anak-anak
[pengrajin]," kilas Niluh.Namun, keputusan itu harus menjadi pil pahit. Nilou yang sudah mendunia ternyata sudah didaftarkan pihak lain. Penolakan Niluh tak membuat bergeming. Kongsi pecah. "Mereka tetap jalan dengan mass production bermerek Nilou berbasis di Cina," ujar Niluh. Karena alasan itu pula, dia terpaksa membunuh Nilou, brand yang lahir dan tumbuh dari cintanya. Niluh kembali ke belakang layar dengan berkonsentrasi memproduksi sepatu untuk desainer asing. "Yang penting mesin jahit tetap jalan, anak-anak tetap bareng aku, kita gak misah."
Tak ingin terlalu lama tenggelam dalam kegamangan, Niluh kembali mencoba peruntungan di bisnis sepatu. Kali ini ia berjuang sendiri. Awal 2008, pecinta shopping dan travelling ini kembali membangun usahanya dengan memproduksi sepatu bermerek "Niluh Djelantik". Agar tak terulang, brand Niluh Djelantik langsung dipatenkan.
Setahun kemudian high heels
buatannya sudah melanglang buana kembali di berbagai negara Eropa, Australia
dan Selandia Baru. "Julia Robert memakai produk saya, ketika pembuatan
film 'Eat Pray Love" di Bali kemarin," ujar Niluh.Label baru ini bahkan telah menembus Globus Switzerland pada 2011, yang merupakan salah satu retailer terkemuka di Eropa. Sepatu-sepatu ini mulai dipasarkan pada musim panas 2012. Niluh belum lama ini juga bekerja sama dengan retailer terkemuka untuk membuka Niluh Djelantik di Rusia.
Atas kerja kerasnya, Niluh meraih Best Fashion Brand & Designer The Yak Awards in 2010. Dinominasikan sebagai Ernst & Young for Ernst & Young Entrepreneurial Winning Women 2012 Awards. Sebagai persembahan bagi pecinta high heels, Niluh membuka butik Niluh Djelantik seluas 250 meter persegi di Bali pada pertengahan Maret 2012.
Kisah jatuh bangun bersama high heels dikubur dalam-dalam dan menjadi pembelajaran untuk bangkit bersama Niluh Djelantik. Dia tak pernah menyesali keputusan menolak dan membenamkan Nilou. Keputusan yang memiliki dua konsekuensi yakni bangkrut karena melawan perusahaan yang lebih besar atau justru berhasil. "Meski keberhasilan itu tidak semata-mata dinilai dengan uang," tegas Niluh. Tak terbilang siapa saja pesohor dunia yang memakai Niluh Djelantik, "Karena semua wanita pemakai [sepatu] Niluh Djelantik adalah selebritis buat saya,"
Niluh Djelantik, bagi ibu satu anak ini, bukan lagi sekadar sebuah merek atau butik. Keseharian di factory, butik, hingga hubungan klien sudah seperti keluarga besar. Ada kebahagiaan saat seorang wanita merasa nyaman memakai Niluh Djelantik.
Jauh di lubuk hati, cita-cita untuk terus mengibarkan Niluh Djelantik di kancah internasional terus dipupuk namun dengan tetap menjaga eksklusivitas. Yang pasti, ekspansi ke negara lain tak akan mengubah prinsip awal Niluh Djelantik yakni 'dibuat dengan cinta'.
|
|
|||
BALI, DETIKER.com Dengan
modal nekat, Sabbatha mencoba membangun bisnis sendiri. Kini, produk-produk
buatannya berhasil menembus pasar dunia. Selebritas kelas dunia pun menjadi
konsumennya.
Usai menamatkan pendidikan di
Universitas Sorbonne, Prancis, pria yang bernama lengkap Sabbatha Rahzuardi
Maya Dwianto ini bekerja sebagai art director di sebuah perusahaan periklanan
di Bali. Awalnya ia begitu menyukai pekerjaan tersebut, karena bisa menyalurkan
jiwa seni yang memang sangat kental dalam dirinya.
Ternyata Sabbatha hanya bertahan selama empat tahun di perusahaan tersebut. Tahun 2004, ia memutuskan membangun usaha sendiri. Ia mulai membuat berbagai aksesori rumah seperti sarung bantal dengan mendesain sendiri. “Aku melihat ternyata aku bisa mendesain,” ujarnya.
Di tengah perjalanannya mengembangkan usaha itulah, ia justru melihat dunia aksesori fashion lebih semarak. Anak kedua dari tiga bersaudara ini pun memutuskan menjadi bag designer, profesi yang masih sangat langka di Indonesia. “Aku mencoba menempatkan diri aku sebagai seniman yang bisa mengombinasikan antara unsur seni dan kebutuhan life style,” katanya.
Ya, tas menjadi media Sabbatha untuk menyalurkan kreativitasnya. “Tas lebih simpel, ukurannya cuma satu, sedangkan baju atau sepatu ukurannya banyak,” demikian alasannya. Selain itu, menurutnya, tas dari segi struktur tidak terlalu rumit seperti baju. Dan yang terpenting, desainer busana sudah banyak di Indonesia.
Jika menengok ke belakang, sejatinya dunia desain bukanlah sesuatu yang baru bagi Sabbatha. Sejak kecil ia pandai menggambar. Bakat ini diturunkan ayahnya, Pramono S. Pramoedjo, seorang karikaturis senior Indonesia. Ketika kuliah di Universitas Sorbonne, selain belajar di jurusan ekonomi, Sabbatha juga mengambil kelas malam, mempelajari desain interior.
Ketika mulai mendesain dan membuat tas, tak disangka-sangka, seorang temannya menawarkan peluang untuk memasok produk bagi dua perusahaan garmen di Yunani. Pasalnya, perusahaan yang memproduksi busana tersebut tidak memiliki departemen yang membuat aksesori, sehingga perlu mencari desainer aksesori untuk melengkapi produknya. Pria kelahiran Jakarta, 28 Mei 1977, ini pun mempresentasikan karya-karyanya. “Ternyata cocok. Dari situ jumlah order yang aku dapat cukup banyak. Kemudian dari keuntungan yang aku dapatkan saat itu, akhirnya tiga tahun lalu aku mulai membuat brand-ku sendiri,” ujar Sabbatha seraya menjelaskan, saat itu satu perusahaan memesan sampai 5.000 unit per musim.
Dengan modal sekitar Rp 70 juta, ia mendirikan sebuah toko di daerah Seminyak, Bali. Kebetulan, ketika menyuplai untuk perusahaan di Yunani tersebut, ia juga membuat beberapa barang yang tidak jadi dikirimkan karena kualitasnya jauh lebih baik sehingga harganya menjadi lebih mahal, tidak sesuai dengan harga yang diinginkan kliennya. Barang-barang yang tadinya untuk sampel ke Yunani inilah yang akhirnya dipajang di butiknya pertama kali. Saat itu, ia mematok harga tasnya di kisaran Rp 2-6 juta. Bahan yang digunakan untuk tas masih sederhana, seperti ukiran kayu dan kaca.
“Aku ingin menunjukkan bahwa aku ini seniman yang bisa berekspresi dengan bahan apa saja,” ungkap Sabbatha. Karena itulah, lama-kelamaan ia mulai menggunakan berbagai bahan untuk tas buatannya. Ia pun menggunakan bahan-bahan yang berkualitas, sehingga harga pun mau tak mau tidak bisa murah.
Awalnya Sabbatha mencoba membuat tas berbahan kain, lama-lama ia memutuskan fokus memilih materi kulit – yang dianggap lebih awet -- sebagai badan tas. Kulit yang digunakan adalah kulit sapi, domba, kambing dan ular piton. Kulit tersebut dipadukan dengan berbagai materi seperti batu-batuan natural, ukiran tanduk rusa, ukiran tanduk kerbau dan ukiran perak. Ia belum menggunakan batu permata, masih batu semi-precious seperti kristal, amethyst, black onyx dan agate. Bahan-bahan tersebut ia beli di Bali dari penjual yang memang sering mencari bahan baku ke berbagai wilayah. Dengan karyanya, Sabbatha ingin menunjukkan kekayaan alam Indonesia.
Setiap bulan Sabbatha rata-rata mengeluarkan empat model tas, dan setiap model memiliki 2-3 warna. Setiap warna menggunakan aksesori yang berbeda. Karena bahan-bahan yang digunakan pun semakin advance, semakin unik dan berkualitas baik, harga pun semakin naik. Kini, sebuah tas Sabbatha harganya di kisaran Rp 12-25 juta.
Nama Sabbatha terus melambung. Tas-tas hasil rancangannya sangat diminati konsumen. Bahkan, mampu menarik perhatian sosialita dunia, seperti aktris Katie Holmes dan supermodel Elle Mc Pherson. Di dalam negeri, sejumlah pejabat dan sosialita juga menjadi penggemarnya. Ada Meutia Hatta, Mbak Tutut, Cornelia Agatha, Lulu Tobing, juga keluarga Bakrie. “Prosesnya sebenarnya normal saja, aku buka toko pertama kali pada 12 Juli 2006 dan November aku mulai masuk Jakarta dengan mempromosikan di Harper's Bazaar,” ujarnya.
Menrut Sabbatha, keberadaan butik yang berlokasi di Bali juga menjadi satu keuntungan baginya. Pasalnya, pengunjung Bali sangat bervariasi, bukan hanya orang lokal, tetapi juga orang asing. Selain itu, ia juga memasang iklan di media lokal di Bali. Untuk menyasar pasar premium di Jakarta, selain di Harper's Bazaar, Sabbatha juga mulai mempromosikan mereknya di sejumlah majalah gaya hidup seperti Elle dan Dewi. Karena belum punya butik di Jakarta, ia menitipkan barangnya di d'Designer Pasaraya dan Alun-Alun Indonesia. “Baru tahun ini aku buka butik di Grand Indonesia,” ujarnya.
Untuk mengenalkan setiap model terbarunya, awalnya ia membuat katalog. Namun karena jumlah barang yang diproduksi tidak banyak, ia menganggap katalog tidak cukup efektif. Sehingga, setiap produk baru ia pajang di website-nya, http://sabbathabali.com.
Menurut Aninditha A. Bakrie, tas produk Sabbatha sangat unik. “Sabbatha itu sebuah hasil seni yang kreatif,” katanya. Keunikan ini pula yang memikatnya sehingga menggunakan tas-tas Sabbatha sejak dua tahun lalu. Apalagi kini, merek Sabbatha terbukti bisa bersaing dengan merek-merek luar negeri yang sudah terkenal lebih dulu. “Desain dan kualitas Sabbatha sangat baik,” kata Aninditha lagi. Karena itu, ia mengaku tetap percaya diri menggunakan produk-produk Sabbatha di berbagai kesempatan.
Keunikan Sabbatha, di mata Aninditha, terletak pada ketepatan kombinasi bahan-bahan yang digunakan. Misalnya, kulit dan batu yang digunakan pada produk-produknya tetap terlihat indah karena kombinasinya yang pas. “Sabbatha juga tidak pernah menempelkan label besar-besar pada produknya karena memang sudah cantik dan bagus,” ujar Aninditha seraya memuji kreativitas seni Sabbatha.
Artis senior Cornelia Agatha sependapat dengan Aninditha. Ia mengaku sangat menyukai dan sudah menggunakan tas-tas Sabbatha sejak tiga tahun lalu. ”Awalnya saya lihat di majalah. Desainnya unik dan kreatif. Apalagi, ini buatan lokal yang sudah punya nama di tingkat internasional,” ujar Cornelia. Setelah itu, pemain teater yang biasa disapa Lia ini menyempatkan diri ke Bali untuk memiliki tas Sabbatha. ”Waktu itu, gerai Sabbatha baru ada di Bali.”
Menurut Cornelia, setidaknya ada dua hal yang bisa didapatkannya dengan menggunakan tas produk Sabbatha. Pertama, Sabbatha tetap prestisius dan sejajar dengan merek-merek terkenal lainnya meski buatan lokal. Soal harga, ia berpendapat, harga itu bisa menunjukkan eksklusivitas produk. ”Untuk sebuah karya seni yang unik dan indah, harga yang ditawarkan Sabbatha cukup pantas,” tambahnya. Selain itu, sebagai pengguna Sabbatha ia merasa spesial karena setiap tas Sabbatha diproduksi dalam jumlah terbatas. Karena itu, baginya, Sabbatha tetap prestisius.
Menurut pengamat mode Samuel Mulia, produk Sabbatha terlalu berat. “Saya enggak terlalu suka yang penuh dan berat, heavy thing, terlalu banyak pernik dan segala macam. Tapi tidak semua orang seperti saya,” ungkap Samuel yang lebih menyukai hal-hal yang minimalis atau tidak terlalu ramai. “Tapi kalau buat saya, Sabbatha bisa sejajarlah dengan brand-brand internasional. Secara tampilan dan sebagainya memang sebaiknya ada yang perlu diperbaiki,” lanjutnya.
Samuel yang lahir dan besar di Bali menilai produk Sabbatha dalam pilihan-pilihan aksesorinya sangat Balinese yang terpengaruh oleh spirit Eropa. “Brand ini menjadi sedikit berbeda ketika kita melihatnya di Jakarta, tetapi begitu saya melihat di website-nya, memang bagus. Itu harus saya akui, “ papar Samuel yang menilai Bali memang sangat terpengaruh oleh Eropa. Kendati tidak terlalu sesuai dengan selera pribadinya, ia mengakui, tas Sabbatha memang bagus.
Sabbatha tidak hanya menarik dari sisi produknya. Kepribadian pria berkepala plontos ini juga sangat menarik. Menurut karyawan Sabbatha, Siti Napisah (37 tahun), Sabbatha adalah orang yang sabar, kreatif, teliti dan sopan. “Orangnya sangat menghargai dan selalu mengambil sisi positifnya,” ujar perempuan yang sudah bekerja selama enam tahun untuk Sabbatha. Ia menyebutkan, jika ada masalah di antara karyawan, Sabbatha biasanya memanggil keduanya lalu ditengahi dan diminta agar jangan seperti itu lagi. “Dia tidak pernah marah,” kata Siti.
Ungkapan Siti dibenarkan Sapiran Ansori (43 tahun). Menurut supervisor produksi di bengkel kerja Sabbatha ini, jika terjadi kesalahan dalam proses mewujudkan desain ke bentuk jadinya, akan ditelusuri di mana letak salahnya tanpa mencari kambing hitam. “Selama saya bekerja di sini, hampir tidak pernah ada masalah,” ujarnya.
Sabbatha mengatakan, keberhasilannya hingga saat ini memang tak lepas dari peran seluruh karyawannya yang saat ini berjumlah 28 orang. Karena itu, ia berusaha memperlakukan seluruh karyawannya dengan baik layaknya sebuah keluarga. Menurutnya, ia tidak akan bisa bekerja seorang diri tanpa bantuan karyawannya. Apalagi, produk Sabbatha tidak hanya dipasarkan di Indonesia, tetapi juga ke banyak negara.
Untuk pasar mancanegara, Sabbatha sudah menjalin kerja sama dengan 9 agen (toko ternama) di sejumlah kota: Mumbai, Hawai, Roma, Amsterdam, Milan, Cannes, Florence, Sydney dan St. Tropez. “Sistemnya beli putus,” ungkapnya. Namun, untuk toko yang di Mumbai, sampai dengan kerangka untuk memajang barang pun dipasok olehnya. “Jadi, mereka mendisplai barang ini ya seperti apa adanya aku mendisplai di Grand Indonesia dan di Bali,” tutur Sabbatha seraya menjelaskan, para agen tersebut tidak dihubunginya, tetapi mereka datang sendiri karena telah mengetahui mereknya.
Sabbatha berencana membuka butik di Jepang (Tokyo) pada Agustus ini dan Rusia (Moskow) pada November, bekerja sama dengan orang yang bersedia mengembangkan nama Sabbatha di kedua negara itu. Konsep toko di dua negara itu pun sama dengan konsep toko yang di Bali dan di Jakarta. “Semua yang aku dapatkan ini adalah sebuah keberuntungan yang mungkin tidak semua orang mendapatkannya,” tuturnya mensyukuri. Karena itu, ia berharap keberuntungan akan terus ada di tangannya dan merek Sabbatha dapat terus mendunia.
Ternyata Sabbatha hanya bertahan selama empat tahun di perusahaan tersebut. Tahun 2004, ia memutuskan membangun usaha sendiri. Ia mulai membuat berbagai aksesori rumah seperti sarung bantal dengan mendesain sendiri. “Aku melihat ternyata aku bisa mendesain,” ujarnya.
Di tengah perjalanannya mengembangkan usaha itulah, ia justru melihat dunia aksesori fashion lebih semarak. Anak kedua dari tiga bersaudara ini pun memutuskan menjadi bag designer, profesi yang masih sangat langka di Indonesia. “Aku mencoba menempatkan diri aku sebagai seniman yang bisa mengombinasikan antara unsur seni dan kebutuhan life style,” katanya.
Ya, tas menjadi media Sabbatha untuk menyalurkan kreativitasnya. “Tas lebih simpel, ukurannya cuma satu, sedangkan baju atau sepatu ukurannya banyak,” demikian alasannya. Selain itu, menurutnya, tas dari segi struktur tidak terlalu rumit seperti baju. Dan yang terpenting, desainer busana sudah banyak di Indonesia.
Jika menengok ke belakang, sejatinya dunia desain bukanlah sesuatu yang baru bagi Sabbatha. Sejak kecil ia pandai menggambar. Bakat ini diturunkan ayahnya, Pramono S. Pramoedjo, seorang karikaturis senior Indonesia. Ketika kuliah di Universitas Sorbonne, selain belajar di jurusan ekonomi, Sabbatha juga mengambil kelas malam, mempelajari desain interior.
Ketika mulai mendesain dan membuat tas, tak disangka-sangka, seorang temannya menawarkan peluang untuk memasok produk bagi dua perusahaan garmen di Yunani. Pasalnya, perusahaan yang memproduksi busana tersebut tidak memiliki departemen yang membuat aksesori, sehingga perlu mencari desainer aksesori untuk melengkapi produknya. Pria kelahiran Jakarta, 28 Mei 1977, ini pun mempresentasikan karya-karyanya. “Ternyata cocok. Dari situ jumlah order yang aku dapat cukup banyak. Kemudian dari keuntungan yang aku dapatkan saat itu, akhirnya tiga tahun lalu aku mulai membuat brand-ku sendiri,” ujar Sabbatha seraya menjelaskan, saat itu satu perusahaan memesan sampai 5.000 unit per musim.
Dengan modal sekitar Rp 70 juta, ia mendirikan sebuah toko di daerah Seminyak, Bali. Kebetulan, ketika menyuplai untuk perusahaan di Yunani tersebut, ia juga membuat beberapa barang yang tidak jadi dikirimkan karena kualitasnya jauh lebih baik sehingga harganya menjadi lebih mahal, tidak sesuai dengan harga yang diinginkan kliennya. Barang-barang yang tadinya untuk sampel ke Yunani inilah yang akhirnya dipajang di butiknya pertama kali. Saat itu, ia mematok harga tasnya di kisaran Rp 2-6 juta. Bahan yang digunakan untuk tas masih sederhana, seperti ukiran kayu dan kaca.
“Aku ingin menunjukkan bahwa aku ini seniman yang bisa berekspresi dengan bahan apa saja,” ungkap Sabbatha. Karena itulah, lama-kelamaan ia mulai menggunakan berbagai bahan untuk tas buatannya. Ia pun menggunakan bahan-bahan yang berkualitas, sehingga harga pun mau tak mau tidak bisa murah.
Awalnya Sabbatha mencoba membuat tas berbahan kain, lama-lama ia memutuskan fokus memilih materi kulit – yang dianggap lebih awet -- sebagai badan tas. Kulit yang digunakan adalah kulit sapi, domba, kambing dan ular piton. Kulit tersebut dipadukan dengan berbagai materi seperti batu-batuan natural, ukiran tanduk rusa, ukiran tanduk kerbau dan ukiran perak. Ia belum menggunakan batu permata, masih batu semi-precious seperti kristal, amethyst, black onyx dan agate. Bahan-bahan tersebut ia beli di Bali dari penjual yang memang sering mencari bahan baku ke berbagai wilayah. Dengan karyanya, Sabbatha ingin menunjukkan kekayaan alam Indonesia.
Setiap bulan Sabbatha rata-rata mengeluarkan empat model tas, dan setiap model memiliki 2-3 warna. Setiap warna menggunakan aksesori yang berbeda. Karena bahan-bahan yang digunakan pun semakin advance, semakin unik dan berkualitas baik, harga pun semakin naik. Kini, sebuah tas Sabbatha harganya di kisaran Rp 12-25 juta.
Nama Sabbatha terus melambung. Tas-tas hasil rancangannya sangat diminati konsumen. Bahkan, mampu menarik perhatian sosialita dunia, seperti aktris Katie Holmes dan supermodel Elle Mc Pherson. Di dalam negeri, sejumlah pejabat dan sosialita juga menjadi penggemarnya. Ada Meutia Hatta, Mbak Tutut, Cornelia Agatha, Lulu Tobing, juga keluarga Bakrie. “Prosesnya sebenarnya normal saja, aku buka toko pertama kali pada 12 Juli 2006 dan November aku mulai masuk Jakarta dengan mempromosikan di Harper's Bazaar,” ujarnya.
Menrut Sabbatha, keberadaan butik yang berlokasi di Bali juga menjadi satu keuntungan baginya. Pasalnya, pengunjung Bali sangat bervariasi, bukan hanya orang lokal, tetapi juga orang asing. Selain itu, ia juga memasang iklan di media lokal di Bali. Untuk menyasar pasar premium di Jakarta, selain di Harper's Bazaar, Sabbatha juga mulai mempromosikan mereknya di sejumlah majalah gaya hidup seperti Elle dan Dewi. Karena belum punya butik di Jakarta, ia menitipkan barangnya di d'Designer Pasaraya dan Alun-Alun Indonesia. “Baru tahun ini aku buka butik di Grand Indonesia,” ujarnya.
Untuk mengenalkan setiap model terbarunya, awalnya ia membuat katalog. Namun karena jumlah barang yang diproduksi tidak banyak, ia menganggap katalog tidak cukup efektif. Sehingga, setiap produk baru ia pajang di website-nya, http://sabbathabali.com.
Menurut Aninditha A. Bakrie, tas produk Sabbatha sangat unik. “Sabbatha itu sebuah hasil seni yang kreatif,” katanya. Keunikan ini pula yang memikatnya sehingga menggunakan tas-tas Sabbatha sejak dua tahun lalu. Apalagi kini, merek Sabbatha terbukti bisa bersaing dengan merek-merek luar negeri yang sudah terkenal lebih dulu. “Desain dan kualitas Sabbatha sangat baik,” kata Aninditha lagi. Karena itu, ia mengaku tetap percaya diri menggunakan produk-produk Sabbatha di berbagai kesempatan.
Keunikan Sabbatha, di mata Aninditha, terletak pada ketepatan kombinasi bahan-bahan yang digunakan. Misalnya, kulit dan batu yang digunakan pada produk-produknya tetap terlihat indah karena kombinasinya yang pas. “Sabbatha juga tidak pernah menempelkan label besar-besar pada produknya karena memang sudah cantik dan bagus,” ujar Aninditha seraya memuji kreativitas seni Sabbatha.
Artis senior Cornelia Agatha sependapat dengan Aninditha. Ia mengaku sangat menyukai dan sudah menggunakan tas-tas Sabbatha sejak tiga tahun lalu. ”Awalnya saya lihat di majalah. Desainnya unik dan kreatif. Apalagi, ini buatan lokal yang sudah punya nama di tingkat internasional,” ujar Cornelia. Setelah itu, pemain teater yang biasa disapa Lia ini menyempatkan diri ke Bali untuk memiliki tas Sabbatha. ”Waktu itu, gerai Sabbatha baru ada di Bali.”
Menurut Cornelia, setidaknya ada dua hal yang bisa didapatkannya dengan menggunakan tas produk Sabbatha. Pertama, Sabbatha tetap prestisius dan sejajar dengan merek-merek terkenal lainnya meski buatan lokal. Soal harga, ia berpendapat, harga itu bisa menunjukkan eksklusivitas produk. ”Untuk sebuah karya seni yang unik dan indah, harga yang ditawarkan Sabbatha cukup pantas,” tambahnya. Selain itu, sebagai pengguna Sabbatha ia merasa spesial karena setiap tas Sabbatha diproduksi dalam jumlah terbatas. Karena itu, baginya, Sabbatha tetap prestisius.
Menurut pengamat mode Samuel Mulia, produk Sabbatha terlalu berat. “Saya enggak terlalu suka yang penuh dan berat, heavy thing, terlalu banyak pernik dan segala macam. Tapi tidak semua orang seperti saya,” ungkap Samuel yang lebih menyukai hal-hal yang minimalis atau tidak terlalu ramai. “Tapi kalau buat saya, Sabbatha bisa sejajarlah dengan brand-brand internasional. Secara tampilan dan sebagainya memang sebaiknya ada yang perlu diperbaiki,” lanjutnya.
Samuel yang lahir dan besar di Bali menilai produk Sabbatha dalam pilihan-pilihan aksesorinya sangat Balinese yang terpengaruh oleh spirit Eropa. “Brand ini menjadi sedikit berbeda ketika kita melihatnya di Jakarta, tetapi begitu saya melihat di website-nya, memang bagus. Itu harus saya akui, “ papar Samuel yang menilai Bali memang sangat terpengaruh oleh Eropa. Kendati tidak terlalu sesuai dengan selera pribadinya, ia mengakui, tas Sabbatha memang bagus.
Sabbatha tidak hanya menarik dari sisi produknya. Kepribadian pria berkepala plontos ini juga sangat menarik. Menurut karyawan Sabbatha, Siti Napisah (37 tahun), Sabbatha adalah orang yang sabar, kreatif, teliti dan sopan. “Orangnya sangat menghargai dan selalu mengambil sisi positifnya,” ujar perempuan yang sudah bekerja selama enam tahun untuk Sabbatha. Ia menyebutkan, jika ada masalah di antara karyawan, Sabbatha biasanya memanggil keduanya lalu ditengahi dan diminta agar jangan seperti itu lagi. “Dia tidak pernah marah,” kata Siti.
Ungkapan Siti dibenarkan Sapiran Ansori (43 tahun). Menurut supervisor produksi di bengkel kerja Sabbatha ini, jika terjadi kesalahan dalam proses mewujudkan desain ke bentuk jadinya, akan ditelusuri di mana letak salahnya tanpa mencari kambing hitam. “Selama saya bekerja di sini, hampir tidak pernah ada masalah,” ujarnya.
Sabbatha mengatakan, keberhasilannya hingga saat ini memang tak lepas dari peran seluruh karyawannya yang saat ini berjumlah 28 orang. Karena itu, ia berusaha memperlakukan seluruh karyawannya dengan baik layaknya sebuah keluarga. Menurutnya, ia tidak akan bisa bekerja seorang diri tanpa bantuan karyawannya. Apalagi, produk Sabbatha tidak hanya dipasarkan di Indonesia, tetapi juga ke banyak negara.
Untuk pasar mancanegara, Sabbatha sudah menjalin kerja sama dengan 9 agen (toko ternama) di sejumlah kota: Mumbai, Hawai, Roma, Amsterdam, Milan, Cannes, Florence, Sydney dan St. Tropez. “Sistemnya beli putus,” ungkapnya. Namun, untuk toko yang di Mumbai, sampai dengan kerangka untuk memajang barang pun dipasok olehnya. “Jadi, mereka mendisplai barang ini ya seperti apa adanya aku mendisplai di Grand Indonesia dan di Bali,” tutur Sabbatha seraya menjelaskan, para agen tersebut tidak dihubunginya, tetapi mereka datang sendiri karena telah mengetahui mereknya.
Sabbatha berencana membuka butik di Jepang (Tokyo) pada Agustus ini dan Rusia (Moskow) pada November, bekerja sama dengan orang yang bersedia mengembangkan nama Sabbatha di kedua negara itu. Konsep toko di dua negara itu pun sama dengan konsep toko yang di Bali dan di Jakarta. “Semua yang aku dapatkan ini adalah sebuah keberuntungan yang mungkin tidak semua orang mendapatkannya,” tuturnya mensyukuri. Karena itu, ia berharap keberuntungan akan terus ada di tangannya dan merek Sabbatha dapat terus mendunia.