Bandung, 17 Oktober 2012
Program pendidikan D4 Kewirausahaan
SBM ITB bekerjasama dengan SEAMOLEC telah dibuka dan diresmikan oleh Dekan
Fakultas School Of Bussines and Management ITB. Dan saya salah satu mahasiswa
yang mengikuti jenjang pendidikan tersebut. Bahagia dan semangat yang
menggelora yang saya rasakan saat itu. Ditambah suntikan motivasi-motivasi dari
Bapak Dekan SBM, Bapak Direktur SEAMOLEC , dan Pak Victor seorang pengusaha
muda yang menceritakan kisah sukses beliau menjadi seorang pengusaha muda
sukses dalam bidang pakian.
Kisah-kisah yang dibicarakan oleh
Pak Victor banyak memberikan inspirasi kepada saya dan banyak memberikan
semangat-semangat positif kepada diri saya dalam bidang wirausaha. Beliau
mengisnpirasi saya bagaimana dalam berwirausaha harus mempunyai mental yang
kuat dan daya juang yang keras. Dengan usaha dan kerja keras dan semangat
pantang menyerah Pak Victor dapat meraih kesuksessan di posisi puncak dengan di
usia yang masih muda.
Lalu dilanjut oleh Pak Stainley. Pak
Stainley merupakan trainer kita saat nanti kita outbond dan character
building. Dengan perawakannya layaknya seorang mantan tentara kopasus
membuat kita segan terhadap beliau. Padahal setelah Pak Stainley bercerita
tentang kehidupannnya dahulu beliau adalah mantan dari pegawai negeri sipil ,
yang beliau memutuskan untuk pensiun dini saat itu. Beliau lebih memilih untuk
mencetak orang-orang yang mempunyai karakter yang tangguh dan pantang meyerah
dengan nilai-nilai karakter yang sangat baik dan bermanfaat bagi lingkungan.
Keesokan harinya kami melakukan kegiatan outbond dihari pertama yang dilaksanakan di kampus
ITB. Pada awal kami diberikan materi-materi tentang pembentukan karakter yang
baik bagi seorang entrepreneur. Setelah
itu kami diberikan materi tentang kekuatan keyakinan. Lalu kami diberikan tugas
yang berhubungan dengan keyakinan, pembentukan karakter, pelatihan mental, dan
pembelajaran marketing.
Kami diberikan tugas menjual buku
yang harga normalnya sebesar 50 ribu rupiah dan pulpen yang hanya berharga
normal 1500 perak. Lalu kami ditekankan bagaimana caranya bisa menjual produk
tersebut jauh di atas normal. Kami tidak diberikan pembekalan tentang
marketing, kami diuji keahlian soft skill kita dalam menjual sebuah produk. Pak
Stainley memberikan contoh bagaimana pelatihan seperti itu sudah beliau lakukan
dimana-mana. Dan beliau memberikan contoh orang-orang yang dapat menjual buku
senilai 50 ribu rupiah, dijual menjadi 3 Juta rupiah dan maasih masih banyak
lagi contoh-contoh yang kita pikir itu adalah hal yang tidak mungkin menjadi
mungkin.
Semangat kami mulai terbakar dan
menggebu-gebu untuk menjual produk tersebut dengan harga yang fantastis yang
dirasa tidak masuk akal. Kami diberikan waktu sekitar 1 jam 30 menit untuk
menjual produk tersebut dengan cara door to door. Kami dibagi beberapa kelompok
untuk menjual produk tersebut. Namun pada saat itu saya sedikit kurang yakin
dan ragu-ragu. Karena menurut saya itu sangat tidak masuk akal dengan logika
bisnis saya. Kebetulan Pak Stainley bertanya siapa orang yang meragukan tugas
itu akan terlaksana. Lalu diantara semua teman-teman hanya saya yang
mengacungkan tangan karena saya ragu-ragu. Dipanggilah saya kedepan oleh Pak
Stainley. Lalu saat itu saya diyakinkan dengan saya disuruh untuk menahan nafas
saya, lalu Pak Stainley memukul perut saya dengan keras dan alhasil perut saya
pun TIDAK SAKIT sama sekali. Itulah esensinya. Bahwa apabila saya yakin saya
akan bisa. Namun Saya masih tetap ragu akan berhasil menjual buku dan pulpen
itu dengan harga yang sangat tinggi. Lalu mulailah saya dan kelompok saya menjual
produk buku dan pulpen. Namun pada saat di lapangan keoptimisan dan semangat
kami mulai terkikis sedikit demi sedikit. Hal itu karena saat kami melakukan
tugas itu, saat dilapangan kami mengalami penolakan terus menerus. Penolakan
biasa sudah kami rasakan biasa, namun cacian makian pun datang menerima kami.
Diusir oleh satpam, sampai diusir oleh protokoler rumah dinas Pak Wakil
Gubernur Jawa Barat karena kami pikir itu rumah warga biasa yang kaya raya.Tapi
kami tetap berusaha walau kami sudah sedikit patah semangat. Alhamdulillah buku
kami terjual 2 buku dan 2 pulpen. Buku terjual dengan harga 100rb yang dibeli
oleh bapak-bapak yang iba melihat kami. Sedangkan pulpen terjual kepada anak
muda yang sedang makan di salah satu restaurant jepang di jalan dago. Itupun
ada sedikit paksaan dan memelas-melas karena kami sudah sangat lelah dan patah
semangat. 1 jam setengah sudah kami lewati, dan kami harus segera kembali ke
kampus ITB. Setelah kami sampai kami pikir kelompok lain akan bernasib sama
dengan kelompok kami. Dan ternyata kelompok kami lah yang mendapatkan hasil
paling kecil sebesar 250 ribu. Sedangkan kelompok lain mendapatkan hasil paling
kecil 800 ribu ke atas. Alhasil kami sangat malu sekali dan sangat kecewa akan
hasil itu. Ditambah kami di maki dan dimarahi oleh Pak Stainley yang membuat
mental kami semakin turun. Namun masih ada sedikit asa untuk bangkit. Lalu
setelah istirahat kami diberi tugas lagi untuk menjual kembali produk tersebut
namun hanya dengan waktu 30 menit. Lalu kami ditekankan untuk mendapatkan hasil
2 juta dalam waktu 30 menit!!! Dan kami hanya bisa berharap ada seorang
dermawan yang mau membeli buku atau pulpen dengan sangat mahal. Lalu kami
bergerak cepat, kami berlari dan memutuskan untuk pergi ke salah satu Mall di
Bandung di daerah Cihampelas. Karena kami pikir disana akan ada banyak orang
berkerumun disana. Mulailah kami begegas pergi ke mall yang terletak di daerah
cihampelas dengan di dampingi oleh salah satu panitia untuk mengawasi kelompok
kami yang sangat gagal. Setelah sampai ke Mall kami pun berpencar dibagi 2
kelompok. Kami tawari siapapun yang ada disana dan hasilnya NIHIL! Lalu kami
coba keluar Mall setelah gagal. Kami menyusuri sepanjang jalan Cihampelas.
Namun yang kami dapat hanya terjual 1 pulpen yang hanya terjual 10 ribu perak
dan cacian dan makian, kritikan, dan yang pasti PENOLAKAN! Karena waktu habis
panitia yang mendampingi kami menyuruh kami untuk kembali ke kampus ITB.
Pulanglah kami ke kampus ITB dengan menggunakan angkot yang ongkos angkot itu
kami gunakan dari penghasilan penjualan buku sebelumnya. Sesampainya kami di
ITB dengan hasil minus 20 ribu karena digunakan ongkos. Dan lebih parahnya lagi
kelompok lain masih bisa dapat penghasilan minimal 400 ribu rupiah. Sedangkan
kami MINUS 20 ribu. Dengan berat ketua kelompok kami harus melaporkan hasil
kami. Namun kami masih bersyukur Pak Stainley tidak lagi memarahi kami, beliau
memberikan semangat kepada kami yang sudah putus asa. Disana saya merasa mental
saya ada pada titik terendah dan terlemah. Namun banyak orang berkata bahwa
kekuatan yang paling hebat adalah saat kita ada pada saat kita berada di
situasi titik paling terendah. Dan hal itu memang benar saya rasakan. Disana
saya berpikir keras kenapa orang lain berhasil tetapi saya tidak berhasil. Lalu
Pak Stainley menugaskan kepada kami agar besok paginya buku sama pulpen kami
harus habis terjual bagaimanapun caranya. Dan bsk pagi kami msih diberi waktu 1
jam setengah lagi untuk berjualan. Sore pukul 5 kami baru beres melaksanakan
kegiatan outbond. Lalu saya pulang dengan mental yang sangat drop dan semangat
yang sangat lemah. Namun disana saya terus berpikir bagaimana caranya menjual
buku dan pulpen itu dengan harga yang sangat tinggi. Langkah awal saya adalah
bertanya kepada orang-orang yang bisa berhasil menjual barang-barang tersebut
dengan harga yang sangat tinggi. Setelah itu saya memikirkan strategi yang jitu
dalam memasarkan produk kami. Dan akhirnya setelah semalaman saya memikirkan
itu, bertanya, riset, belajar dari kegagalan lah yang paling utama, saya
mengevaluasi hasil kerja kami saat itu. Mengapa kami gagal, apa yang salah pada
kami, lalu apa yang harus saya lakukan nanti. Alhamdulillah setelah saya
berpikir terus menerus memikirkan strategi, evaluasi diri, dan semuanya
mendapatkan titik terang. Saya langsung action, saya langsung jualan buku itu
kepada relasi-relasi saya. Dengan semangat pantang menyerah dan modal keyakinan
yang tinggi saya berjualan. Puji syukur dalam beberapa jam saya menawarkan buku
dan pulpen dengan hanya menjual 2 buku dan 2 pulpen saya mendapatkan omset 400
ribu dengan modal buku yang hanya seharga 50 ribu dan pulpen 1500 perak! Saya membuktikan kekuatan keyakinan dan
perjuangan yang pantang menyerah. Keesokan harinya,kami diberi waktu 1 jam 30
menit untuk berjualan sisa buku dan pulpen kami, Dan kami bisa menghasilkan
uang 1 juta 400 lebih dalam waktu beberapa jam dengan kelompok yang hanya 3
orang karena anggota yang lain jatuh sakit! Kelompok kami bangkit, membuktikan
kami tidak mau terjatuh di lubang yang sama. Kami berjuang dengan strategi yang
matang, semangat baru, dan keyakinan yang kuat. Saat laporan semua tercengang
dengan kelompok kami yang bisa mengumpulkam uang paling besar dipagi itu
mengalahkan kelompok lain yang jumlah anggotanya jauh lebih banyak dari kami
yang hanya berjumlah 3 orang. Terima kasih SEAMOLEC, SBM ITB, terima kasih
semuanya. Banyak sekali pengalaman, ilmu, pembelajaran yang saya dapat. SALAM
SUKSES!!!!!