Selasa, 23 Oktober 2012

The Power of Faith



Bandung, 17 Oktober 2012
            Program pendidikan D4 Kewirausahaan SBM ITB bekerjasama dengan SEAMOLEC telah dibuka dan diresmikan oleh Dekan Fakultas School Of Bussines and Management ITB. Dan saya salah satu mahasiswa yang mengikuti jenjang pendidikan tersebut. Bahagia dan semangat yang menggelora yang saya rasakan saat itu. Ditambah suntikan motivasi-motivasi dari Bapak Dekan SBM, Bapak Direktur SEAMOLEC , dan Pak Victor seorang pengusaha muda yang menceritakan kisah sukses beliau menjadi seorang pengusaha muda sukses dalam bidang pakian.
            Kisah-kisah yang dibicarakan oleh Pak Victor banyak memberikan inspirasi kepada saya dan banyak memberikan semangat-semangat positif kepada diri saya dalam bidang wirausaha. Beliau mengisnpirasi saya bagaimana dalam berwirausaha harus mempunyai mental yang kuat dan daya juang yang keras. Dengan usaha dan kerja keras dan semangat pantang menyerah Pak Victor dapat meraih kesuksessan di posisi puncak dengan di usia yang masih muda.
            Lalu dilanjut oleh Pak Stainley. Pak Stainley merupakan trainer kita saat nanti kita outbond dan character building. Dengan perawakannya layaknya seorang mantan tentara kopasus membuat kita segan terhadap beliau. Padahal setelah Pak Stainley bercerita tentang kehidupannnya dahulu beliau adalah mantan dari pegawai negeri sipil , yang beliau memutuskan untuk pensiun dini saat itu. Beliau lebih memilih untuk mencetak orang-orang yang mempunyai karakter yang tangguh dan pantang meyerah dengan nilai-nilai karakter yang sangat baik dan bermanfaat bagi lingkungan.
            Keesokan harinya kami melakukan kegiatan outbond dihari pertama yang dilaksanakan di kampus ITB. Pada awal kami diberikan materi-materi tentang pembentukan karakter yang baik  bagi seorang entrepreneur. Setelah itu kami diberikan materi tentang kekuatan keyakinan. Lalu kami diberikan tugas yang berhubungan dengan keyakinan, pembentukan karakter, pelatihan mental, dan pembelajaran marketing.
            Kami diberikan tugas menjual buku yang harga normalnya sebesar 50 ribu rupiah dan pulpen yang hanya berharga normal 1500 perak. Lalu kami ditekankan bagaimana caranya bisa menjual produk tersebut jauh di atas normal. Kami tidak diberikan pembekalan tentang marketing, kami diuji keahlian soft skill kita dalam menjual sebuah produk. Pak Stainley memberikan contoh bagaimana pelatihan seperti itu sudah beliau lakukan dimana-mana. Dan beliau memberikan contoh orang-orang yang dapat menjual buku senilai 50 ribu rupiah, dijual menjadi 3 Juta rupiah dan maasih masih banyak lagi contoh-contoh yang kita pikir itu adalah hal yang tidak mungkin menjadi mungkin.
            Semangat kami mulai terbakar dan menggebu-gebu untuk menjual produk tersebut dengan harga yang fantastis yang dirasa tidak masuk akal. Kami diberikan waktu sekitar 1 jam 30 menit untuk menjual produk tersebut dengan cara door to door. Kami dibagi beberapa kelompok untuk menjual produk tersebut. Namun pada saat itu saya sedikit kurang yakin dan ragu-ragu. Karena menurut saya itu sangat tidak masuk akal dengan logika bisnis saya. Kebetulan Pak Stainley bertanya siapa orang yang meragukan tugas itu akan terlaksana. Lalu diantara semua teman-teman hanya saya yang mengacungkan tangan karena saya ragu-ragu. Dipanggilah saya kedepan oleh Pak Stainley. Lalu saat itu saya diyakinkan dengan saya disuruh untuk menahan nafas saya, lalu Pak Stainley memukul perut saya dengan keras dan alhasil perut saya pun TIDAK SAKIT sama sekali. Itulah esensinya. Bahwa apabila saya yakin saya akan bisa. Namun Saya masih tetap ragu akan berhasil menjual buku dan pulpen itu dengan harga yang sangat tinggi. Lalu mulailah saya dan kelompok saya menjual produk buku dan pulpen. Namun pada saat di lapangan keoptimisan dan semangat kami mulai terkikis sedikit demi sedikit. Hal itu karena saat kami melakukan tugas itu, saat dilapangan kami mengalami penolakan terus menerus. Penolakan biasa sudah kami rasakan biasa, namun cacian makian pun datang menerima kami. Diusir oleh satpam, sampai diusir oleh protokoler rumah dinas Pak Wakil Gubernur Jawa Barat karena kami pikir itu rumah warga biasa yang kaya raya.Tapi kami tetap berusaha walau kami sudah sedikit patah semangat. Alhamdulillah buku kami terjual 2 buku dan 2 pulpen. Buku terjual dengan harga 100rb yang dibeli oleh bapak-bapak yang iba melihat kami. Sedangkan pulpen terjual kepada anak muda yang sedang makan di salah satu restaurant jepang di jalan dago. Itupun ada sedikit paksaan dan memelas-melas karena kami sudah sangat lelah dan patah semangat. 1 jam setengah sudah kami lewati, dan kami harus segera kembali ke kampus ITB. Setelah kami sampai kami pikir kelompok lain akan bernasib sama dengan kelompok kami. Dan ternyata kelompok kami lah yang mendapatkan hasil paling kecil sebesar 250 ribu. Sedangkan kelompok lain mendapatkan hasil paling kecil 800 ribu ke atas. Alhasil kami sangat malu sekali dan sangat kecewa akan hasil itu. Ditambah kami di maki dan dimarahi oleh Pak Stainley yang membuat mental kami semakin turun. Namun masih ada sedikit asa untuk bangkit. Lalu setelah istirahat kami diberi tugas lagi untuk menjual kembali produk tersebut namun hanya dengan waktu 30 menit. Lalu kami ditekankan untuk mendapatkan hasil 2 juta dalam waktu 30 menit!!! Dan kami hanya bisa berharap ada seorang dermawan yang mau membeli buku atau pulpen dengan sangat mahal. Lalu kami bergerak cepat, kami berlari dan memutuskan untuk pergi ke salah satu Mall di Bandung di daerah Cihampelas. Karena kami pikir disana akan ada banyak orang berkerumun disana. Mulailah kami begegas pergi ke mall yang terletak di daerah cihampelas dengan di dampingi oleh salah satu panitia untuk mengawasi kelompok kami yang sangat gagal. Setelah sampai ke Mall kami pun berpencar dibagi 2 kelompok. Kami tawari siapapun yang ada disana dan hasilnya NIHIL! Lalu kami coba keluar Mall setelah gagal. Kami menyusuri sepanjang jalan Cihampelas. Namun yang kami dapat hanya terjual 1 pulpen yang hanya terjual 10 ribu perak dan cacian dan makian, kritikan, dan yang pasti PENOLAKAN! Karena waktu habis panitia yang mendampingi kami menyuruh kami untuk kembali ke kampus ITB. Pulanglah kami ke kampus ITB dengan menggunakan angkot yang ongkos angkot itu kami gunakan dari penghasilan penjualan buku sebelumnya. Sesampainya kami di ITB dengan hasil minus 20 ribu karena digunakan ongkos. Dan lebih parahnya lagi kelompok lain masih bisa dapat penghasilan minimal 400 ribu rupiah. Sedangkan kami MINUS 20 ribu. Dengan berat ketua kelompok kami harus melaporkan hasil kami. Namun kami masih bersyukur Pak Stainley tidak lagi memarahi kami, beliau memberikan semangat kepada kami yang sudah putus asa. Disana saya merasa mental saya ada pada titik terendah dan terlemah. Namun banyak orang berkata bahwa kekuatan yang paling hebat adalah saat kita ada pada saat kita berada di situasi titik paling terendah. Dan hal itu memang benar saya rasakan. Disana saya berpikir keras kenapa orang lain berhasil tetapi saya tidak berhasil. Lalu Pak Stainley menugaskan kepada kami agar besok paginya buku sama pulpen kami harus habis terjual bagaimanapun caranya. Dan bsk pagi kami msih diberi waktu 1 jam setengah lagi untuk berjualan. Sore pukul 5 kami baru beres melaksanakan kegiatan outbond. Lalu saya pulang dengan mental yang sangat drop dan semangat yang sangat lemah. Namun disana saya terus berpikir bagaimana caranya menjual buku dan pulpen itu dengan harga yang sangat tinggi. Langkah awal saya adalah bertanya kepada orang-orang yang bisa berhasil menjual barang-barang tersebut dengan harga yang sangat tinggi. Setelah itu saya memikirkan strategi yang jitu dalam memasarkan produk kami. Dan akhirnya setelah semalaman saya memikirkan itu, bertanya, riset, belajar dari kegagalan lah yang paling utama, saya mengevaluasi hasil kerja kami saat itu. Mengapa kami gagal, apa yang salah pada kami, lalu apa yang harus saya lakukan nanti. Alhamdulillah setelah saya berpikir terus menerus memikirkan strategi, evaluasi diri, dan semuanya mendapatkan titik terang. Saya langsung action, saya langsung jualan buku itu kepada relasi-relasi saya. Dengan semangat pantang menyerah dan modal keyakinan yang tinggi saya berjualan. Puji syukur dalam beberapa jam saya menawarkan buku dan pulpen dengan hanya menjual 2 buku dan 2 pulpen saya mendapatkan omset 400 ribu dengan modal buku yang hanya seharga 50 ribu dan pulpen 1500 perak!  Saya membuktikan kekuatan keyakinan dan perjuangan yang pantang menyerah. Keesokan harinya,kami diberi waktu 1 jam 30 menit untuk berjualan sisa buku dan pulpen kami, Dan kami bisa menghasilkan uang 1 juta 400 lebih dalam waktu beberapa jam dengan kelompok yang hanya 3 orang karena anggota yang lain jatuh sakit! Kelompok kami bangkit, membuktikan kami tidak mau terjatuh di lubang yang sama. Kami berjuang dengan strategi yang matang, semangat baru, dan keyakinan yang kuat. Saat laporan semua tercengang dengan kelompok kami yang bisa mengumpulkam uang paling besar dipagi itu mengalahkan kelompok lain yang jumlah anggotanya jauh lebih banyak dari kami yang hanya berjumlah 3 orang. Terima kasih SEAMOLEC, SBM ITB, terima kasih semuanya. Banyak sekali pengalaman, ilmu, pembelajaran yang saya dapat. SALAM SUKSES!!!!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar