PJJ TOPIK-4
Peran Tes Formatif dan Tes Sumatif dalam Pembelajaran menurut Grolund
·
Hasil tes formatif dapat digunakan untuk
memutuskan, apakah ada peserta didik yang harus diberi remediasi karena belum
menguasai tujuan pembelajaran yang direncanakan. Peran tes formatif sangat
penting dalam PJJ. Seperti telah dibahas sebelumnya, peserta didik PJJ
melakukan proses belajar sendiri, terpisah secara fisik dari pendidiknya.
Mereka belajar secara mandiri menggunakan bahan ajar yang dirancang khusus
untuk keperluan belajar mandiri.
Untuk
membantu proses belajar peserta didik, dalam bahan ajar disediakan
latihan-latihan atau pertanyaan-pertanyaan atau tugas-tugas, dan diakhir
kegiatan belajar tertentu disediakan tes formatif untuk mengarahkan mereka agar
dapat mengukur keberhasilan belajarnya sendiri. Pada program PJJ, tes formatif
biasanya ada pada akhir modul.
Latihan-latihan atau
pertanyaan-pertanyaan atau tugas-tugas berfungsi sebagai alat diagnosis untuk
mendeteksi kesulitan-kesulitan peserta didik dalam mempelajari bagian bahan
ajar yang sedang dihadapi. Peserta didik mengetahui hasilnya dengan cara
membandingkan hasil pengerjaannya dengan jawaban yang telah disediakan di bahan
ajar itu sendiri. Demikian juga dengan tes formatif, peserta didik mengerjakan
tes formatif yang disediakan, kemudian mencocokkan hasilnya dengan kunci
jawaban yang telah disediakan pula.
·
Evaluasi
sumatif dilakukan pada akhir proses pembelajaran. Evaluasi atau tes ini
bertujuan untuk menetukan apakah peserta didik menguasai materi yang telah
dipelajari. Dengan kata lain, evaluasi sumatif diberikan untuk mengetahui
apakah peserta didik telah mencapai hasil belajar yang diharapkan sesuai yang
ditentukan pada tujuan pembelajaran.
Hasil evaluasi digunakan terutama
untuk memberikan nilai bagi peserta didik atau menetukan kelulusan peserta
didik. Apabila hasil penilaian menunjukkan bahwa peserta didik belum mencapai
tujuan pembelajaran yang telah direncanakan, pengajar dapat memberikan
pelajaran tambahan untuk memastikan ketercapaian tujuan pembelajaran tersebut.
Pada
sistem PJJ di Indonesia tes sumatif dapat diberikan dalam bentuk:
o
Tugas
Mandiri
o
Ujian
Akhir Semester
o
Tugas
Tutorial
o
Ujian
Praktek (termasuk pembuatan laporan)
o
Ujian
Komprehensif Tertulis
Fungsi penilaian
Fungsi
penilaian pada dasarnya ada tiga, yaitu untuk:
o
mengukur
keberhasilan belajar mahasiswa,
o
mengevaluasi
efektivitas mengajar dosen, dan
o
memberikan
umpan balik kepada mahasiswa.
Nilai diperlukan agar mahasiswa mengetahui
keberhasilan belajarnya. Oleh karena itu, nilai yang diberikan harus valid.
Nilai haruslah mencerminkan tingkat keberhasilan yang dicapai mahasiswa. Nilai
tertinggi harus diberikan kepada mahasiswa yang dapat mencapai tingkat
penguasaan yang tertinggi terhadap tujuan pembelajaran yang telah ditentukan.
Penilaian juga berfungsi untuk memacu, mengarahkan,
dan memberikan penghargaan atas usaha peserta didik dalam belajar. Setiap
peserta didik berhak mendapatkan umpan balik dari pengajarnya untuk setiap
tugas yang dikerjakannya. Dengan demikian, peserta didik dapat mengetahui
kesalahannya dalam menjawab atau mengerjakan tugas, dan sebaliknya dapat
mengetahui apakah jawaban atau tugas yang dikerjakannya sudah benar. Mengetahui
kesalahan dalam belajar dapat memotivasi peserta didik untuk belajar lebih
keras. Begitu pula informasi keberhasilan peserta didik dalam belajar dapat
menimbulkan rasa bangga, yang pada akhirnya akan lebih memacu semangat
belajarnya.
Bentuk-bentuk tes sumatif pada PJJ
Berdasarkan bentuknya, tes sumatif dapat
dideskripsikan seperti dibawah:
a. Tugas
Mandiri (TM)
TM setara
dengan Ujian Tengah Semester (UTS) pada sistem pendidikan tatap muka. TM
diadakan untuk memacu proses belajar peserta didik dan dapat dikerjakan oleh
para peserta didik di rumah masing-masing tanpa pengawasan. Dengan mengerjakan
TM, baik masing-masing, maupun secara berkelompok, peserta didik diharapkan
telah mempelajari materi kuliah. Nilai TM menyumbang sebesar 20% terhadap nilai
mata kuliah, Apabila peserta didik tidak menyerahkan TM, nilai akhir mereka
dihitung 100% dari UAS.
b. Ujian
Akhir Semester (UAS)
Materi
yang diujikan pada UAS adalah semua materi bahan ajar dengan proporsi
keterwakilan materi substansi yang telah dipertimbangkan oleh penulis soal. UAS
dapat menjadi satu-satunya alat ukur keberhasilan jika peserta didik tidak
mengirimkan lembar jawaban TM atau nilai TM lebih rendah dari nilai UAS.
c. Tugas
Tutorial
Dalam hal
ini, yang penting adalah proses bimbingan akademik yaitu tugas tutor dalam
membimbing peserta didiknya. Setiap tutor biasanya diberi tugas untuk
membimbing sekelompok peserta didik. Tutor bertanggung jawab untuk memberikan
tugas, mengevaluasi tugas-tugas yang telah dikerjakan peserta didik, dan
memberikan umpan balik terhadap tugas-tugas tersebut. Mereka secara kontinu
harus memonitor kemajuan belajar peserta didiknya. Peserta didik juga
diharuskan menghubungi tutornya setiap saat apabila mereka menemui kesulitan
belajar. Jadi, tutor di sini berfungsi sebagai pembimbing akademik.
d. Ujian Praktik
Praktik diberikan untuk mata kuliah mata kuliah yang tidak
hanya menuntut peningkatan pengetahuan kognitif dari peserta didiknya, namun
juga peningkatan keterampilan, misalnya praktik olahraga, praktik pembelajaran
atau perencanaan pembelajaran. Nilai praktik dan praktikum mempunyai kontribusi
terhadap nilai akhir mata kuliah. Nilai praktik diberikan oleh tutor atau
instruktur berdasarkan kinerja yang dilakukan pada saat kegiatan praktik tetapi
nilai praktikum diberikan berdasarkan laporan praktikum yang dibuat peserta
didik.
e. Ujian Komprehensif Tertulis (UKT)
UKT merupakan ujian akhir program studi bagi peserta didik.
Peserta didik yang belum lulus UKT belum dapat dinyatakan lulus program studi
yang diikuti, meskipun semua mata kuliah sudah lulus, jumlah SKS sudah melebihi
persyaratan kelulusan, dan IPK-nya cukup tinggi. Materi UKT diambil dari
beberapa mata kuliah inti pada program studi yang bersangkutan. Proses berpikir
yang diukur biasanya proses berpikir tinggi dengan pendekatan pemecahan masalah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar